Sunday, September 18, 2016

Short Travel: Medan in 3 days

One's destination is never a place, but a new way of seeing things
Henry Miller

#latepost, #sebuah perjalanan di awal 2013

Perjalanan Pekanbaru - Medan yang sedianya akan saya tempuh dengan jalur darat, akhirnya saya batalkan karena kondisi yang tidak fit. Fortunately, saya dapat tiket promo dan saya jadi punya waktu untuk explore Medan (yuhuuu....) sebelum penerbangan selanjutnya ke Bangkok and back writing my thesis again (sigh...).

This is my first solo backpacking in my country. Salah satu keuntungan solo backpacker di negera sendiri adalah penduduk lokal menguasai bahasa yang sama dengan saya. Tentunya hal ini sangat membantu ketika tersesat atau mencari suatu alamat.

First day
Penerbangan Pekanbaru - Medan ditempuh kurang lebih 1 jam, dan petang hari saya baru sampai Medan (Polonia), sehingga saya langsung memutuskan untuk menuju penginapan. Taksi di bandara tidak ada yang berargo dan harga yang ditetapkan sudah fixed. Segera saja saya naik taksi dan memberitahu tujuan saya, yaitu Hotel Residence Inn yang berada di Jalan Tengah 1 ABCDE, Medan Area. Hotel ini saya pilih setelah sebelumnya googling penginapan backpacker di Medan.

Akhirnya, sampai saya di hotel ini dengan biaya taksi IDR60.000. Hotelnya lumayan dengan dominasi warna hijau. Ada 4 pilihan kamar di sana, yaitu ekonomi, standard, deluxe dan superior. saat saya ke sana. Saya mengambil kamar standard karena kamar ekonomi sudah habis. Kamarnya lumayan, hanya saja ada kecoa di dalam kamar selain itu, colokan listrik hanya ada 1. Beda kamar standar dan ekonomi adalah tambahan televisi dan tidak ada fasilitas sarapan pagi. Harga makanan di hotel cukup terjangkau dan ada fasilitas wifi di restoran (not in the room).  Fasilitas laundry tergolong cukup murah, yaitu Rp5.000,-/kg.

Second day
Setelah menitipkan baju untuk di laundry di hotel dan berpesan akan saya ambil 2 hari lagi, saya segera check out dan bergegas untuk memulai perjalanan saya. Dari hotel, saya naik angkot ke terminal (IDR3.000) dan naik bus Sejahtera ke Perapat (IDR35.000). Sebenarnya ada beberapa bus yang menuju Perapat, tidak hanya bus Sejahtera, dari hasil googling banyak yang menyarankan untuk memakai bus Sejahtera karena sopirnya tidak ugal-ugalan. Karena lelah, tidak banyak pemandangan yang saya nikmati karena saya lebih banyak tidur... Perjalanan cukup lama juga, kurang lebih 2 jam. 
Bus Sejahtera yang mengantarkan saya ke Perapat
Karena bingung dan malu bertanya, saya turun di pemberhentian terakhir dan dari situ dan benar saja penyeberangan sudah terlewat sehingga saya harus naik angkot menuju Ajibata. Dari situ, saya menyeberang ke pulau Samosir ke daerah Tuktuk Siadong mengunakan kapal ferry dengan biaya IDR10.000. Saya sangat menikmati pemandangan selama berada di dalam kapal, it is so beautiful, one of the beautiful place I've ever visit. Rasanya tidak puas-puas memandang Danau Toba.  

Kapal tersebut mengantarkan langsung ke penginapan, jadi sebelum menyeberang harus sudah tahu daerah mana yang akan dituju. Hasil googling sebelumnya mengarahkan saya untuk menginap di Carolina Cottage. Kapal merapat di Tuktuk Siadong di dermaga Hotel Carolina, sehingga tidak perlu jauh-jauh saya berjalan. Lobby hotel memiliki arsitektur khas Batak, Hotel ini memiliki kelas ekonomi yang terdiri dari Economy - Hill 1, Economy - Hill 2 dan Economy - beach; kelas Standard terdiri dari Standard - Hill, Standard - Beach dan kelas Deluxe yang terdiri dari Deluxe Hill dan Deluxe Beach. Kamar-kamar Hill terletak di atas sementara  kelas beach terletak di tepi danau dengan pemandangan danau Toba.    


view kamar di Carolina Cottage
Setelah meletakkan tas di kamar, saya bergegas kembali ke lobby hotel dan menyewa sepeda motor hotel (IDR120.000/day). Dengan berbekal map yang saya dapat dari hotel, saya mengunjungi beberapa spot wisata di pulau Samosir, diantaranya adalah Tomok.

Saat berada di Tomok, saya berniat mengunjungi makam Raja Sidabutar (seperti rekomendasi beberapa blog perjalanan). Makam itu agak sulit dicari karenanya minimnya petunjuk jalan. Selain itu, saya juga mengunjungi Museum Batak. Di pasar Tomok, saya sempatkan untuk membeli fridge magnet dan ulos.

Tidak jauh dari tempat saya menginap, ada rumah makan kecil muslim. Jadilah makan malam di situ.

Paginya, saya bergegas karena hendak pergi ke air terjun sipiso-piso, air terjun tertinggi di Indonesia. 

Monday, May 9, 2016

Perayaan Imlek di Jakarta

Berawal dari pesan yang diforward ke saya tentang perayaan imlek oleh PT KAI bagi pengguna commuter line, saya bbm kawan ngebolang Debby. Gayung bersambut, dan jadilah kami janjian di stasiun kota. 

Cukup lama juga menunggu bus trans jakarta tujuan ke Harmoni, karena tak kunjung datang akhirnya naiklah saya ke bus tujuan ancol lalu turun di jembatan merah dan disambung dengan bus arah pluit. Akhirnya sampai juga di halte Jakarta Kota, kami pun sarapan dulu, di jalan yang menghubungkan halte Kota dengan stasiun Kota. 


ornamen lampion berwarna merah menghias jalan penghubung halte dan stasiun Kota, menyambut imlek
 Setibanya di stasiun Kota, kami sempat bingung juga karena tidak ada tanda-tanda pertunjukan barongsai. Namun fotografer dan reporter sudah ada di sana, jadi syukurlah bukan hoax :) Setelah menunggu beberapa saat, akhirnya pertunjukkan barongsai yang dinanti dimulai juga. 






Belum puas melihat perayaan imlek, kami pun menuju ke petak sembilan. Petak sembilan Glodok yang merupakan kawasan pecinan di Jakarta. Konon kawasan ini sudah didiami kaum Tionghoa sejak zaman Belanda. Dari Stasiun Jakarta Kota kami menuju ke pasar Asemka lalu berjalan kaki menuju petak sembilan. Dalam perjalanan kami lewati kawasan pertokoan, ada toko obat China, makanan/ snack import dan juga pedagang kaki lima yang menjajakan barang khas imlek (angpao, baju, dsb). Dan akhirnya sampailah kami di klenteng 














Charm of Gunung Padang

perjalanan di bulan Februari 2014


Is the gunung Padang is the world oldest pyramid? The mystery intrigues me, then my friends and I decided to travel to Gunung Padang. We met at Kampung Rambutan bus station, then we find a bus to Garut (IDR 22.000). 

Unfortunately it was a bit late for us to start our travel, when we pass Puncak, the police enforced one way traffic system for vehicles from Jakarta heading to Puncak. As the result we should wait, and it make our trip become so long.. To kill the time and get off the boredom, we step out from the bus and take a sit on the grass near by the road. There are lot of food seller nearby that area, yeah some people try to earn money from this situation, and I bought siomay. After waiting more than an hours, we continue the trip. 
siomay, apologize for uploading the picture from internet

One of the passenger told us to stop at the intersection instead of the bus station. We followed her suggestion and waiting for Angkot (public car), it cost IDR3.000 to Warung Kondang. Then, we rent an angkot from Warung Kondang to Gunung Padang (IDR120.000) for 7 person. It's a bit difficult to go to Gunung Padang since there was no public transportation. We negotiate with the driver so we can make a stop at Lampegan Railway Station. We also make a stop in a small restaurant. 
Angkot that we rent

Lampegan Train Station is a disused train station that was built in 1882. Near by the station there was an oldest train tunnel. It has 415 meters long, pretty long and dark. 
Lampegan tunnel
inside of the tunnel, a bit spooky :p
Lampegan train station, it so peaceful


After enjoying that place for about 45 minutes, we continue our trip to Gunung Padang. We enjoy the beautiful scenery of tea plants along the way to the site. It was really refreshing, different from the scenery in Jakarta (of course...). Usually I always fall a sleep during the trip, but the beautiful scenery made me stay awake (not the way back).

Finally, we arrived the gate to Gunung Padang, the biggest megalithikum site. It is not to difficult to reach the top of Gunung Padang but very tiring. There was 378 stairs step upstairs. Technically there was five levels of terraces that divided into two main areas.   
  

Tiring faces

Monday, February 15, 2016

Air Terjun Bersusun di Curug Cilember

If you want to enjoy the natural view which not really far from Jakarta, you should go to Bogor since there are lot of Curug (waterfall), one of those is Curug Cilember. This waterfall is near by Puncak, and well hidden from the crowded street from Jakarta to Puncak. 

Curug is a sundanesse word for waterfall, and ci means river while lember means ear mushroom since you can see lots of mushroom near by the curug. 

Early morning we went to Manggarai train station and take the train to Bogor. After arrived Bogor station, we took a public transportation (public car) number 02 Sukasari - Bubulak and stop in Sukasari. Then continue the trip by taking (again) public car Sukasari - Cisarua and stop in Hankam. Unfortunately when we arrived Hankam, it was raining heavily then we should take an ojek (motorbike taxi) to Curug Cilember. Finally after the long journey we arrived Curug Cilember, where you can see the sign :)


The entrance fee is IDR12.000, but they charged differently if you want to stay (camping) in this area. There are 7 waterfalls in Curug Cilember, the closest to the entrance gate are the seventh and sixth. 


The waterfall is so beautiful, there is a myth said that if you wash your face or take a bath in this waterfall will give you eternal youth. Believe or not, we wash our face in this waterfall for fun :)

We continue the trip to other waterfall, and it is difficult since we walk during the rain. The next waterfall is the fifth. And you can find a small shop (warung) there. To recharge our energy we stop there and buy some food. 

small shop near by the fifth waterfall



entah curug berapa ini
The public facilities in this area quiet complete, since you can find a prayer place (mushola) and toilet. 

From curug cilember to the main road we take a walk, a bit far but that's okay for us. 


Train Manggarai - Bogor :      2.000
Sukasari - Bubulak           :      3.000
Sukasari - Cisarua            :      5.000
Ojek ke Curug Cilember  :    15.000
Tarif Masuk                     :     12.000
Hankam - Sukasari          :       5.000
Sukasari - Bubulak          :       3.000
Bogor - Manggarai          :       2.000

Total cost  IDR  47.000       

Curug Nangka, A Beautiful Waterfall in Bogor

Di menit-menit terakhir koordinator trip mengirimkan sms pemberitahuan tentang pembatalan trip ke Baduy karena banjir. Berdua dengan Deby, semula kami mau ngopi-ngopi di cafe di Sarinah tapi kemudian kami berpikir daripada nda jadi ngetrip kami akhirnya ngetrip sendiri ke Curug Nangka. 

Kami pun bergegas menuju stasiun kereta api menuju Bogor. Jika ingin sejenak lepas dari hiruk pikuk ibukota dan ingin merasakan suasana alam yang segar, Curug Nangka bisa menjadi pilihan. Aksesnya bisa dibilang cukup mudah, dari Jakarta menggunakan kereta api ke Bogor, turun di Stasiun Bogor. Oya, jangan lupa buat nyicipin soto mie Bogor... nom..nom...
soto mie Bogor (muphkan nda sempet ambil gambar, jadi cari di google)

Dari stasiun Bogor, naik angkot 02 ke BTM (Bogor Trade Mall), bayar Rp.2.500,- selanjutnya naik angkot jurusan nangka, membayar Rp.7.000,- Perjalanan ke sana cukup jauh, saya sampai terkantuk-kantuk dan tidur. Kemudian turun di di nangka, dari sini bisa naik ojek atau jalan kaki. saya waktu itu naik ojek karena belum tau jalannya. ternyata tidak begitu jauh, sekitar 2 km mungkin. Jika naik ojeg, sekitar Rp. 10.000,- Kemudian membayar tiket masuk, di pintu pertama Rp. 7.500,- dan di pintu kedua Rp.2.500,- Di pintu kedua saya tidak mendapatkan tiket, entah apa bedanya tiket di pintu satu dan di pintu dua.

Di pintu masuk, ada banyak kedai-kedai orang berjualan. Jadi tidak ada masalah jika merasa lapar, karena ada pilihan makanan. Selain itu, terdapat pula toilet, dengan membayar Rp.2.000,- 

Terdapat 3 curug di sini, yaitu Curug Nangka, Curung Daun dan Curug Kaung. Untuk menuju Curug tersebut, jalan yang ditempuh tidak terlalu sulit, terdapat jalan berundak yang harus dinaiki, hingga kemudian tiba di aliran air dan terdapat tulisan Curug Nangka di tanah yang terbuat dari batu.





sebenernya saya tidak berhasil mengetahui yang mana sebenarnya Curug Daun, namun ketika mengikuti jalan yang ada kemudian kami sampai di curug yang besar dan kami yakini sebagai Curug Kaung. Perjalanan menuju Curug tersebut tidak terlalu sulit, namun cukup menyenangkan ketika harus menyebarangi aliran air. Selain itu terdapat banyak Owa (monyet berekor panjang) di sana.

Di atas sini, ada banyak sekali monyet yang membuat pemandangan terasa sangat alami dan dekat dengan alam. Hampir saja kami tidak ke Curug Nangka, jika tidak bertanya dengan penjual tentang Curug-curug yang ada di situ. Perjalanan menuju Curug Nangka, bisa jadi yang paling menyenangkan bagi saya. bagaimana tidak, untuk menuju ke sana, harus melewati aliran air dan terowongan. Namun saya tidak bisa berlama-lama di sana karena hujan dan petir.


Total pengeluaran:
Kereta Manggarai - Bogor pp      Rp. 10.000,-
Angkot St. Bogor - BTM pp        Rp.   5.000,-
Angkot BTM - Nangka pp           Rp.  14.000,-
Ojek                                              Rp.   7.500,-
Tiket  masuk                                 Rp. 10.000,-

Total: Rp. 46.500,-